Tuesday, November 3, 2015

Moga Kau Kembali

Zamanmu taman,
masamu hijau,
mengingatimu seperti burung mematuk hati,
aku penuhkan gelas kita lalu kita mabuk bersama-sama,
seperti golongan sufi mabukkan Allah,
kau menerobos ke dalam sejarah hidupku pada waktu malam,
sejarah hidupku menjadi kasturi,
kau adalah tangkai padi di sawah,
kaulah burung,
kaulah dahan pine,
kau memegang anganku,
lalu impianku menjadi sungai, 
hujan cinta turun mencurah hingga kini,
kau terlewat tiba membawa janji cinta,
kita membesar,
air mata kita menjadi dewasa,
malam kita semakin tua,
namun kau belum tiba,
aku sentiasa mengingatimu setiap sore,
ingatanku berdaun lebat ketika aku merinduimu,
lukaku terlupa ketika aku menutup bibirku,
seolah luka tidak berlaku dalam hatiku,
aku menyintaimu tanpa tafsiran,
apa yang harus kutafsirkan sedang cinta kita sukar dimengertikan,
kau terlewat wahai kekasih hati!
malamku panjang,
api pelita berjaga menunggumu,
kau terlewat,
masa memakan dirinya,
hari-hari kita bertaburan,
kau bertanya umurku,
kaulah umurku,
Mahdiku,
kaulah revolusi jiwaku,
kaulah pembakarnya,
kaulah reformasi hidupku,
kubur orang lain semakin sempit,
tetapi kuburku semakin membesar dengan kehadiranmu,
kau terlewat,
kuda perangku bersedih,
pedangku kecewa atas kelewatanmu,
kudamu di utara sedang meneguk darah,
oh azab kuda begitu sengsara,
baju hijaumu mengunyah langkahmu,
di lehermu beribu kalungan bunga kuning menghiasimu,
kau terlewat tiba bagaikan al-Masih,
sementara luka Mariam semakin dalam,
wanita-wanita memakai celak kecewa,
walau mendiami kota dan istana,
lemon di kota semakin kering,
adakah pohon tanpa cinta akan subur menghijau?
adakah kau akan kembali kepadaku?
ketika aku kecewa ditawan perpisahan,
aku di sini sedang bersedia, berdoa dan berharap,
dunia kagum dengan ketabahanmu,
ketabahanmu mengharungi cinta bersamaku akan lebih dikenang,
menara-menara masjid memanggil kau kembali,
bulan malam ini menangisi perpisahan kita,
bunga mawar di taman sudah tidak dikunjungi embun,
embun air matanya sudah cukup membuatkan dia kebasahan,
kembalilah kepadaku,
maruahmu adalah negeriku yang akan kujaga dan kusimpan,
aku tewas dalam peperangan cinta denganmu,
aku dikepung oleh seribu kekecewaan,
di depanku kesengsaraan, di belakangku kedukaan,
akulah pohon kesedihan,
daun berguguran ketika salji tetapi tetap hidup, berbunga dan berbuah,
aku menyembelih sesiapa yang menghalangiku,
aku menyeberangi pintu maut menujumu,
aku tinggalkan untaku dan bajuku di belakang,
aku berjalan ke arah matahari yang sedia membakar dan membunuhku,
aku menjerit: Wahai Kekasihku!
Moga kau muncul sebagai al-Masih yang menyelamatkan daku daripada Dajjal kekecewaan.


No comments:

Post a Comment